“Dinas Terkait Tidak Becus Bekerja”
ACEH UTARA- Sekitar 4 kilometer jalan Simpang Ek Treun yang menghubungkan Kecamatan Samudera dengan Kecamatan Tanah Pasir, mengalami rusak parah dan belum dilakukan perbaikan oleh Dinas Bina Marga Aceh Utara.
Kerusakan badan jalan tersebut, sudah berlangsung hampir 4 tahun lama sehingga membuat kesulitan bagi masyarakat untuk melewatinya. Bahkan, menurut masyarakat setempat awal tahun 2009 badan jalan dimaksud sudah perbaiki, tapi hanya pengerasan saja dan untuk pengaspalan pada akhir tahun.
Namun, kini memasuki bulan September belum ada tanda-tanda dilakukan pengaspalan. Padahal, jalan itu merupakan jalur transportasi masyarakat kedua kecamatan tersebut untuk melakukan aktifitas hari-hari.
Sebelumnya, untuk mempercepat pembangunan jalan, para warga setempat pernah melakukan aksi pemblokiran jalan dengan cara menanam pohon pisang, meletakkan batang pohon kelapa, meletakkan drum minyak, bahkan warga juga menanam pohon pinang di badan jalan.
“Tapi apa yang telah dilakukan oleh masyarakat tanpa digubris oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara bersama Dinas Bina Marga,”ucap M. Hamzah (40) bersama beberapa warga lainnya, kepada Rakyat Aceh, kemarin.
Sebut dia, upaya tersebut tidak membuahkan hasil dan hingga kini jalan masih hancur. Parahnya, setiap dilintasi kendaraan bermotor, baik mobil maupun sepeda motor, debu jalanan mengepul dan terbang ke rumah-rumah penduduk. Akibatnya, para warga terancam infeksi saluran pernafasan bagian atas (Ispa). (arm)
ACEH UTARA- Sekitar 4 kilometer jalan Simpang Ek Treun yang menghubungkan Kecamatan Samudera dengan Kecamatan Tanah Pasir, mengalami rusak parah dan belum dilakukan perbaikan oleh Dinas Bina Marga Aceh Utara.
Kerusakan badan jalan tersebut, sudah berlangsung hampir 4 tahun lama sehingga membuat kesulitan bagi masyarakat untuk melewatinya. Bahkan, menurut masyarakat setempat awal tahun 2009 badan jalan dimaksud sudah perbaiki, tapi hanya pengerasan saja dan untuk pengaspalan pada akhir tahun.
Namun, kini memasuki bulan September belum ada tanda-tanda dilakukan pengaspalan. Padahal, jalan itu merupakan jalur transportasi masyarakat kedua kecamatan tersebut untuk melakukan aktifitas hari-hari.
Sebelumnya, untuk mempercepat pembangunan jalan, para warga setempat pernah melakukan aksi pemblokiran jalan dengan cara menanam pohon pisang, meletakkan batang pohon kelapa, meletakkan drum minyak, bahkan warga juga menanam pohon pinang di badan jalan.
“Tapi apa yang telah dilakukan oleh masyarakat tanpa digubris oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara bersama Dinas Bina Marga,”ucap M. Hamzah (40) bersama beberapa warga lainnya, kepada Rakyat Aceh, kemarin.
Sebut dia, upaya tersebut tidak membuahkan hasil dan hingga kini jalan masih hancur. Parahnya, setiap dilintasi kendaraan bermotor, baik mobil maupun sepeda motor, debu jalanan mengepul dan terbang ke rumah-rumah penduduk. Akibatnya, para warga terancam infeksi saluran pernafasan bagian atas (Ispa). (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar