04 September, 2009

Lahan Terlantar Harus Diberdayakan

ACEH UTARA- Sekitar 1.500 hektar lahan terlantar di Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara, harus mendapatkan perhatian dan kepedulian khusus dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat. Pasalnya, selama konflik Aceh dulu lahan tersebut tidak digarah lagi oleh masyarakat petani akibat tidak mempunyai modal usaha.

Dari 1.500 hektar lahan terlantar tersebut terdapat di Gampong Sido Muliyo, Panton Rayuek I, Panton Rayuek II, Babah Lueng, Muling Meucat, Cot Seumiyong, Saweuk, Langkuta, Pulo Barat, Meunasah Buket, Blang Talon, Cot Rheue, Blang Ado, Meunyecut Bahagia, Lhok Jol dan gampong lainnya.

Menurut sejumlah warga setempat, pasca konflik Aceh mereka tidak mempunyai modal usaha untuk kembali membuka lahan yang sudah lama terlantar itu. Namun, besar harapan para petani agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara, dapat melakukan pemantauan kelapangan untuk pengembangan lahan terbengkalai tersebut.

Zulkifli Ganto, SE, Geuchik Gampong Krueng Manyang, Kecamatan Kuta Makmur, kepada Rakyat Aceh, kemarin, mengatakan, untuk memberdayakan lahan terlantar itu akibat faktor konflik, pihaknya mempunyai program. Namun, untuk melakukan pengelolaan dan membuka lahan baru tersebut tidak mempunyai anggaran. Paling tidak Pemkab Aceh Utara dapat memberikan modal usaha secara swakelola guna membuka lahan yang masih produktif di Kecamatan Kuta Makmur.

“Misalnya, dalam satu hektar lahan itu kalau dilakukan penanaman tanaman sawit semua. Jangan dicampur adukan tanaman yang ditanam tersebut, disitu ada coklat, pinang, kepala, sawit dan lainnya,”ucap Zulkifli.

Dia menyebutkan, dirinya bersama sejumlah geuchik lain di Kecamatan Kuta Makmur, juga akan mengusulkan program tersebut pada tahun ini sehingga pemerintah daerah dari Dinas Pertanian serta Dinas Perkebunan dan Kehutanan Aceh Utara, dapat mencari solusi tentang program pembukaan lahan terlantar tersebut. (arm)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar