LHOKSEUMAWE- Selama ini banyak diantara pelajar Aceh terpengaruh dengan budaya ala barat. Hal itu seperti yang terlihat di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, kebanyakan pelajar wanita menggunakan pakaian super ketat ala barat saat berpergian dijalan raya.
Tanpa merasa malu, mereka bebas berpergian ketempat keramaian hanya menggenakan baju ngepas dan celana legging layaknya digunakan di negara barat. Kondisi itu tidak hanya terlihat bagi para pelajar juga sejumlah ibu-ibu rumah tangga memakai busana serupa.
Namun, Syariat Islam yang diterapkan di Provinsi Aceh seakan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Betapa tidak, saat ini bumi serambi mekkah belum mencerminkan daerah Syariat Islam yang sesungguhnya. Dimana, kalangan remaja putri atau pelajar juga masih berani keluar rumah tanpa memakai jilbab.
“Tidak sedikit pelajar kita yang menjadi korban perkembangan arus global yang semakin canggih selama ini. Karena mereka banyak sudah terpengaruh dengan budaya tidak bagus,”ucap Usmani Kandang selaku sepupuh keluarga besar Pelajar Islam Indonesia (PII) Lhokseumawe dan Aceh Utara, pada acara reuni akbar Halal Bin Halal di gedung Juang Iskandar Abdul Jalil PII, Kamis lalu.
Sebut Usmani, bagi kalangan pelajar harus cerdas memilih dan memilah budaya agar tidak menjadi korban arus globalisasi yang terus berkembang. Selain itu peran serta orang tua juga sangat dibutuhkan untuk menjaga anak-anak dari pengaruh globalisasi.
Sementara itu, Walikota Lhokseumawe, Munir Usman, yang menghadiri acara tersebut, sangat berharap agar semua program dan konsep PII nantinya bisa membawa pelajar pada perubahan paradigma. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan keinginan pelajar untuk menuntut ilmu agama demi menjaga aqidah islamiah dalam hidup masyarakat.
“Jadi bagi kader PII semua harus dapat menjaga agar semangat untuk berjuang dan janganlah patah karena kita beda nasib, tapi usahalah yang menentukan kita semua,”pinta Munir Usman. (arm)
Tanpa merasa malu, mereka bebas berpergian ketempat keramaian hanya menggenakan baju ngepas dan celana legging layaknya digunakan di negara barat. Kondisi itu tidak hanya terlihat bagi para pelajar juga sejumlah ibu-ibu rumah tangga memakai busana serupa.
Namun, Syariat Islam yang diterapkan di Provinsi Aceh seakan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Betapa tidak, saat ini bumi serambi mekkah belum mencerminkan daerah Syariat Islam yang sesungguhnya. Dimana, kalangan remaja putri atau pelajar juga masih berani keluar rumah tanpa memakai jilbab.
“Tidak sedikit pelajar kita yang menjadi korban perkembangan arus global yang semakin canggih selama ini. Karena mereka banyak sudah terpengaruh dengan budaya tidak bagus,”ucap Usmani Kandang selaku sepupuh keluarga besar Pelajar Islam Indonesia (PII) Lhokseumawe dan Aceh Utara, pada acara reuni akbar Halal Bin Halal di gedung Juang Iskandar Abdul Jalil PII, Kamis lalu.
Sebut Usmani, bagi kalangan pelajar harus cerdas memilih dan memilah budaya agar tidak menjadi korban arus globalisasi yang terus berkembang. Selain itu peran serta orang tua juga sangat dibutuhkan untuk menjaga anak-anak dari pengaruh globalisasi.
Sementara itu, Walikota Lhokseumawe, Munir Usman, yang menghadiri acara tersebut, sangat berharap agar semua program dan konsep PII nantinya bisa membawa pelajar pada perubahan paradigma. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan keinginan pelajar untuk menuntut ilmu agama demi menjaga aqidah islamiah dalam hidup masyarakat.
“Jadi bagi kader PII semua harus dapat menjaga agar semangat untuk berjuang dan janganlah patah karena kita beda nasib, tapi usahalah yang menentukan kita semua,”pinta Munir Usman. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar