LHOKSEUMAWE- Perwira Mapolresta Lhokseumawe, Iptu Sartono terpaksa menembak Hasan Basri (32) pemuda stres asal Gampong Hagu Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, hingga tewas. Peristiwa tersebut, terjadi di depan Warkop Gampong Atjeh, Jalan Baru, Kecamatan setempat, Sabtu (24/10) malam sekira pukul 22.00 WIB.
Kapolresta Lhokseumawe, AKBP Zulkifli, SSt. MK, SH, saat dikonfirmasi wartawan koran ini, juga membenarkan kejadian penembakan tersebut. Dimana, ketika itu anggotanya Iptu Sartono, sedang duduk di Warung Kopi (Warkop,red) Gampong Atjeh, tiba-tiba datang Hasan Basri, sambil menghisap ganja.
Kemudian, Iptu Sartono menegur pemuda itu untuk membuang ganja, tetapi pemuda tersebut tidak mengubrisnya. “Dan langsung menantang sambil mengatakan, “Apa urusan kamu, aku tidak takut sama siapa-siapa pun, mau POM, Polisi, Kopassus. Lalu anggota saya bilang, jangan seperti itulah, lalu dijawab lagi oleh yang isap ganja itu kamu mahu saya bacok?sambil mengeluarkan,”jelas Kapolresta.
Selanjutnya, Inspektur Satu (Iptu) Sartono selaku Kanit Pembinaan dan Penegakan Disiplin (P3D), menyuruh pemuda tersebut keluar dari warung. Namun, Hasan Basri alias Mak Hasan malah mengeluarkan sebilah parang, sehingga penjual dan masyarakat yang sedang makan dan minum berhamburan keluar dari warung kopi dimaskud.
Sementara, Kanit P3D ini merasa perbuatan tersebut mengancam keselamatan masyarakat, terpaksa mengeluarkan senjata api dan melepaskan tembakan peringatan ke udara. Akan tetapi, pemuda penghisab ganja itu, langsung mengejar perwira polisi di jajaran Mapolresta Lhokseumawe.
“Jadi dengan menghayungkan parang ke arah Iptu Sartono, merasa terancam menembak korban yang mengenai dada, perut sebelah kanan. Pada intinya, anggota saya sudah benar sesuai dengan protap yang telah diajarkan. Dimana, dalam keadaan darurat (mendesak,red) yang menyangkut nyawa orang lain atau keselamatan petugas polisi itu sendiri, wajib diambil tindakan secara tegas,”ucap Kapolresta.
Usai kejadian tersebut, Mak Hasan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI) Lhokseumawe, untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong lagi, meskipun sudah ditangani oleh tim medis di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Selain, itu sebut Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Zulkifli, pihaknya juga menyita barang bukti, berupa sebilah parang, 2 amplop ganja dan jaket dengan bendera GAM. “ Tindakan yang telah kita lakukan, olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), amankan BB serta memeriksa saksi-saksi mata dan Iptu Sartono,”tutur Kapolresta, seraya menambahkan, informasi lainnya, pemuda tersebut juga pernah mengejar Kapolsek Banda Sakti, AKP Adi Sofyan, saat mengadakan operasi di daerah Hagu Teungoh.
Pun demikian, aparat kepolisian dari Mapolresta Lhokseumawe, juga menanggung semua biaya pemakaman korban.
Informasi yang dihimpun wartawan koran ini dilokasi kejadian, anggota polisi itu datang ke Warkop Gampong Atjeh, untuk makan mie goreng dan juice mangga yang telah dipesannya kepada pemilik Warkop setempat. Namun, selang sekiatr 15 menit lamanya, tiba-tiba datang Mak Hasan, yang berpenampilan gagah memakai jaket berwarna abu-abu kecoklatan, memakai baju kaos oblong hitam didalamnya, celana loreng yang dikenakannya. Kemudian, membakar rokok didepan kios yang ada didepan, warkop tersebut berdampingan dengan penjual martabak dan sate didepan warkop dimaksud.
”Setalah si Mak Hasan, membakar rokok ganja lalu ditegur sama anggota polisi berbadan tegap, yang sering datang kesini. Kemudian, menyapa dia dengan ucapan jangan menghisap ganja disini, tapi pemuda itu marah dan menantang sambil mengeluarkan sebilah parang,”cetus Juprida (23,) penjual sate bersama Adli (38) penjual mie dan Aiyub (38) penjual martabak serta sejumlah warga lainnya.
Sebut mereka, melihat gelagat tidak bersahabat dan mengancam keselamatan diri sehingga langsung keluar dari warung untuk menyelamatkan diri bersama penjual lainnya. “Ketika itu kami, sempat mendengar letusan tembakan anggota polisi sebanyak tiga kali dan pemuda itupun jatuh kebadan jalan,”papar saksi mata.
Sementara pihak keluarga korban yang tidak mau sebutkan namanya, menjelaskan, Hasan Basri, sering berprilaku aneh dalam kehidupan sehari-harinya. Bahkan, sejak kecil korban bermasalah dengan gangguan jiwa dan sering membawa senjata tajam.
Tidak hanya itu, ketika konflik Aceh dulu Mak Hasan juga menggagu petugas keamanan yang bertugas di Gampong Hagu Teungoh. Akan tetapi.” Hari-hari Mak Hasan sering ngamuk dan terkadang bekerja sebagai kuli bangunan. Warga disini juga sering memberikan uang untuk adik saya, “ ungkap Abang kandung korban bersama keluarga almarhum dan beberapa warga setempat. Minggu (25/10), pemuda stres telah dikebumikan dikampung halamanya dikawasan Besi Tua, Gampong Hagu Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.(arm)
Kapolresta Lhokseumawe, AKBP Zulkifli, SSt. MK, SH, saat dikonfirmasi wartawan koran ini, juga membenarkan kejadian penembakan tersebut. Dimana, ketika itu anggotanya Iptu Sartono, sedang duduk di Warung Kopi (Warkop,red) Gampong Atjeh, tiba-tiba datang Hasan Basri, sambil menghisap ganja.
Kemudian, Iptu Sartono menegur pemuda itu untuk membuang ganja, tetapi pemuda tersebut tidak mengubrisnya. “Dan langsung menantang sambil mengatakan, “Apa urusan kamu, aku tidak takut sama siapa-siapa pun, mau POM, Polisi, Kopassus. Lalu anggota saya bilang, jangan seperti itulah, lalu dijawab lagi oleh yang isap ganja itu kamu mahu saya bacok?sambil mengeluarkan,”jelas Kapolresta.
Selanjutnya, Inspektur Satu (Iptu) Sartono selaku Kanit Pembinaan dan Penegakan Disiplin (P3D), menyuruh pemuda tersebut keluar dari warung. Namun, Hasan Basri alias Mak Hasan malah mengeluarkan sebilah parang, sehingga penjual dan masyarakat yang sedang makan dan minum berhamburan keluar dari warung kopi dimaskud.
Sementara, Kanit P3D ini merasa perbuatan tersebut mengancam keselamatan masyarakat, terpaksa mengeluarkan senjata api dan melepaskan tembakan peringatan ke udara. Akan tetapi, pemuda penghisab ganja itu, langsung mengejar perwira polisi di jajaran Mapolresta Lhokseumawe.
“Jadi dengan menghayungkan parang ke arah Iptu Sartono, merasa terancam menembak korban yang mengenai dada, perut sebelah kanan. Pada intinya, anggota saya sudah benar sesuai dengan protap yang telah diajarkan. Dimana, dalam keadaan darurat (mendesak,red) yang menyangkut nyawa orang lain atau keselamatan petugas polisi itu sendiri, wajib diambil tindakan secara tegas,”ucap Kapolresta.
Usai kejadian tersebut, Mak Hasan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI) Lhokseumawe, untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong lagi, meskipun sudah ditangani oleh tim medis di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Selain, itu sebut Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Zulkifli, pihaknya juga menyita barang bukti, berupa sebilah parang, 2 amplop ganja dan jaket dengan bendera GAM. “ Tindakan yang telah kita lakukan, olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), amankan BB serta memeriksa saksi-saksi mata dan Iptu Sartono,”tutur Kapolresta, seraya menambahkan, informasi lainnya, pemuda tersebut juga pernah mengejar Kapolsek Banda Sakti, AKP Adi Sofyan, saat mengadakan operasi di daerah Hagu Teungoh.
Pun demikian, aparat kepolisian dari Mapolresta Lhokseumawe, juga menanggung semua biaya pemakaman korban.
Informasi yang dihimpun wartawan koran ini dilokasi kejadian, anggota polisi itu datang ke Warkop Gampong Atjeh, untuk makan mie goreng dan juice mangga yang telah dipesannya kepada pemilik Warkop setempat. Namun, selang sekiatr 15 menit lamanya, tiba-tiba datang Mak Hasan, yang berpenampilan gagah memakai jaket berwarna abu-abu kecoklatan, memakai baju kaos oblong hitam didalamnya, celana loreng yang dikenakannya. Kemudian, membakar rokok didepan kios yang ada didepan, warkop tersebut berdampingan dengan penjual martabak dan sate didepan warkop dimaksud.
”Setalah si Mak Hasan, membakar rokok ganja lalu ditegur sama anggota polisi berbadan tegap, yang sering datang kesini. Kemudian, menyapa dia dengan ucapan jangan menghisap ganja disini, tapi pemuda itu marah dan menantang sambil mengeluarkan sebilah parang,”cetus Juprida (23,) penjual sate bersama Adli (38) penjual mie dan Aiyub (38) penjual martabak serta sejumlah warga lainnya.
Sebut mereka, melihat gelagat tidak bersahabat dan mengancam keselamatan diri sehingga langsung keluar dari warung untuk menyelamatkan diri bersama penjual lainnya. “Ketika itu kami, sempat mendengar letusan tembakan anggota polisi sebanyak tiga kali dan pemuda itupun jatuh kebadan jalan,”papar saksi mata.
Sementara pihak keluarga korban yang tidak mau sebutkan namanya, menjelaskan, Hasan Basri, sering berprilaku aneh dalam kehidupan sehari-harinya. Bahkan, sejak kecil korban bermasalah dengan gangguan jiwa dan sering membawa senjata tajam.
Tidak hanya itu, ketika konflik Aceh dulu Mak Hasan juga menggagu petugas keamanan yang bertugas di Gampong Hagu Teungoh. Akan tetapi.” Hari-hari Mak Hasan sering ngamuk dan terkadang bekerja sebagai kuli bangunan. Warga disini juga sering memberikan uang untuk adik saya, “ ungkap Abang kandung korban bersama keluarga almarhum dan beberapa warga setempat. Minggu (25/10), pemuda stres telah dikebumikan dikampung halamanya dikawasan Besi Tua, Gampong Hagu Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.(arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar