ACEH UTARA- Warga Kabupaten Aceh Utara, kini mempertanyakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang dihasilkan dari pengoperasian Kapal Motor (KM) Marisa sejak 2001 lalu hingga sekarang.
Tidak hanya itu, warga juga menuding biaya operasional KM Marisa yang dikeluarkan banyak dipakai oleh pihak pengelolan kapal tersebut. Sementara Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari hasil pelayaran kapal dimaksud, tidak menguntungan Kabupaten Aceh Utara.
“Kita sebagai masyarakat lebih baik kapal itu dijual saja, jika tidak menguntungkan Daerah Kabupaten Aceh Utara, untuk apa dipertahankan lagi,”ungkap Abdullah (45) salah seorang tokoh masyarakat Aceh Utara, kepada Rakyat Aceh, Senin (19/10).
Dia mengatakan, masyarakat selalu menginginkan dengan keberadaan KM Marisa dapat membuka jalur perdagangan ekspor-impor antar negara. Kemudian, membawa PAD bagi Aceh Utara, juga ada keuntungan terhadap pengusaha di Aceh Utara pada khususnya dan umumnya pengusaha Aceh.
“Jadi sampai sekarang, kami duga pengelolaan kapal itu tidak jelas, sehingga PT.Bina Usaha Satu (anak perusahaan,red) yang mengelola kapal sudah banyak berhutang kepada PD. Bina Usaha, pada setiap tahun,”imbuhnya.
Sebut dia, jika Pemkab ingin melanjutkan pengoperasional Kapal Motor Marisa dapat disewakan kepada pihak yang benar sehingga dapat dikelola dengan manajamen yang baik. Apalagi, selama ini manajamen pengelolaan kapal dibawah kendali PT Bina Usaha sangat tidak jelas.
Lanjut Abdullah, seharusnya, PD. Bina Usaha, tidak perlu lagi menyerahkan pengelolaan kapal kepada anak perusahaannya yakni PT. Bina Usaha I. Karena, dapat menghabiskan anggaran operasioanl yang terlalu besar. “Jadi kalau memang tidak ada uang untuk membeli kapal baru, kan lebih baik kapal ini disewakan kepada pihak ketiga yang sudah profesional dalam melakukan pengelolaan Kapal Motor,”pintanya.
Lanjut Abdullah, seharusnya, PD. Bina Usaha, tidak perlu lagi menyerahkan pengelolaan kapal kepada anak perusahaannya yakni PT. Bina Usaha I. Karena, dapat menghabiskan anggaran operasioanl yang terlalu besar. “Jadi kalau memang tidak ada uang untuk membeli kapal baru, kan lebih baik kapal ini disewakan kepada pihak ketiga yang sudah profesional dalam melakukan pengelolaan Kapal Motor,”pintanya.
Sementara itu, hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif LSM Reuncong Aceh, Zainal Abidin Badar, SH, M.Hum. Dikatakannya, PD.Bina Usaha harus segera mengumumkan PAD yang dihasilkan oleh KM Marisa. Apalagi, kapal tersebut sudah berlayar sejak tahun 2001 lalu, telah menempuh rute Lhokseumawe-Penang (Malaysia) sebanyak empat kali dan satu kali rute Penang-Bangkok. Sedangkan di tahun 2004 lalu, kapal ini berlayar dari Pelabuhan Teluk Bayur, Padang dengan tujuan ke Meulaboh, Aceh Barat dan Tapaktuan.
Sedangkan, pada 2007 dan 2008 lalu kabarnya, Kapal Marisa sudah dicarter atau kontrak untuk pelayaran rute Padang-Aceh Barat. “Lalu berapa yang telah menghasilkan pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk Aceh Utara,”terang Jimbron sapaan akrabnya. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar