ACEH UTARA- Sebanyak 100 unit rumah korban tsunami bantuan Pemirsa Indosiar melalui program peduli di 8 gampong Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, tidak layak huni lagi. Dimana bantuan rumah tersebut, dibangun pada tahun 2005 lalu pasca tsunami di Aceh yang bekerjasama dengan Pemkab Aceh Utara dan Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara.
Dari 100 unit rumah itu, masing-masing untuk Gampong Pante Gurah 15 unit, Keude Mane 15 unit, Tanoh Anoe 25 unit, Cot Seurani 15 unit, Meunasah Baroe 5 unit, Meunasah Drang 5 unit, Meunasah Dakuta 10 unit dan Meunasah Lhok 10 unit rumah. Sementara rumah yang berkonstruksi semi permanen tersebut, berukuran 6x6 meter atau tipe 36. Dengan rincian rumah, dinding dan tiang kayu dipasang sisir tanpa ketam serta dicat, atap asbes,lantai semen, tanpa plafon, tanpa dapur, kamar mandi, sumur dan jendela kaca nako.
Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan LSM Masyarakat Transparansi (MaTA) Aceh, Transpransi Internasional Indonesia (TII) Lhokseumawe, kondisi rumah itu tidak layak huni lagi. Seperti, atap yang terbuat dari asbes sudah berlubang, saat musim hujan menjadi bocor, dan ketika musim panas mengeluarkan serbuk halus yang berbahaya bagi kesehatan.
Kemudian, kualitas kayu sangat rendah, dimana kayu sudah mengeluarkan serbuk dan dinding sudah keropos karena dimakan rayap. Kondisi dinding rumah yang terbuat dari beton sudah mulai retak sejak awal pembangunan serta lantai rumah juga hancur.
Sementara dari 100 unit rumah bantuan untuk 8 gampong di Kecamatan Muara Batu tersebut, 25 unit rumah diantaranya di Gampong Tanoh Anoe, sudah dirubuhkan dan dibangun baru oleh CARITAS Prancis. Sedangkan yang dibutuhkan pembangunan rumah baru hanya 75 unit lagi.
Demikian diungkapkan Hafidh selaku Manajer Program dan Evaluasi LSM Masyarakat Transparansi (MaTA) Aceh, Agusarwono projet officer Transpransi Internasional Indonesia (TII) Lhokseumawe, saat menyampaikan kondisi fisik rumah korban tsunami kepada DPRK Aceh Utara, Rabu (23/12).
Dimana, sejumlah perwakilan warga dan mukim Kemukiman Mane, Kecamatan Muara Batu, Amsidar, ikut mendatangi gedung DPRK Aceh Utara, untuk menyampaikan keluhan masyarakat korban tsunami terhadap rumahnya yang tidak layak huni. Kedatangan sejumlah warga dan mukim tersebut, diterima oleh Ketua Komisi C DPRK Aceh Utara, Wakil Ketua Komisi D, Tgk Abdul Hady Zainal Abidin dan anggota dewan lainnya.
Hafidh juga mengatakan, setelah adanya pengaduan masyarakat penerima rumah bantuan Pemerisa Indosiar, pihaknya melakasana diskusi untuk merumuskan solusi atau langkah yang ditempuh sebagai upaya penyelesaian masalah tersebut.
“Kita laksanakan diskusi bersama TII pada 18 November lalu, diaula Kantor Camat Muara Batu, yang dihadiri oleh korban tsunami, guchik, mukim dan perwakilan dari Badan Kesinambungan Rekonstruksi Aceh (BKRA) dan Muspika Muara Batu,”ujarnya. Namun, lanjut Hafidh dari pihak BKRA kurang mendapatkan respon dan terkesan lepas tangan untuk menangani pembangunan rumah korban tsunami tersebut.
Menyikapi hal tersebut, Khaidir Abdurahman, Ketua Komisi C DPRK Aceh Utara, Wakil Ketua Komisi D, Tgk Abdul Hady Zainal Abidin, mengatakan, pihaknya siap memberikan dukungan dan respon untuk dilayangkan surat kepada Gubernur Aceh, dengan tembusan kepada BKRA dan Bupati Aceh Utara, guna mencari donatur pembangunan rumah korban tsunami.
“Kalau kita andalkan bantuan dari APBK Aceh Utara, sangat tidak memungkinkan karena keterbatasan anggaran. Apalagi pada tahun ini terjadi devisit yang sangat besar,”ucap Ketua Komisi C, Khaidir Abdurahman. Dia juga berharap, bagi korban tsunami yang rumahnya tak layak huni lagi agar dapat bersabar menunggu bantuan rumah baru daripada pemerintah atau donatur,”ujarnya. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar