* Korban Suka Bolos Pada Jam Pelajaran*
LHOKSEUMAWE- Kasus penculikan Jufrizal (18) siswa asal Simpang Kramat yang terjadi Selasa malam (26/5) sekira pukul 23.00 wib diduga kuat bermotif meminta uang tebusan. Sejauh ini polisi masih terus melakukan pengembangan dan memburu para pelaku dan membebaskan korban. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan untuk mengusut kasus penculikan tersebut.
Kapolres Kota Lhokseumawe AKBP Zulkifli kepada wartawan koran ini mengatakan, saat ini sejumlah personilnya masih di lapangan yang dibantu oleh personil Polda Aceh. Menyangkut pelaku dan juga motif sebenarnya masih terus didalami oleh pihak penegak hukum ini.
“Hingga hari ini sejumlah personil terus melakukan penyidikan di lapangan. Terindikasi penculikan ini motifnya uang, yaitu meminta tebusan kepada orangt tua korban. Mungkin pelaku mengira orang tua korban punya uang banyak, karena selama ini bekerja di sebuah perusahaan spare part mobil di Jepang,”terang kapolres, kepada Aceh Geutanyoe.
Ditanya apakah sudah ada pihak yang diduga menjadi tersangka? Kapolres belum mau mengatakannya, sebab masih dalam proses penyelidikan. “Doakan kami semoga dapat mengungkap kasus ini serta dukungan informasi lapangan. Nanti kalau sudah mengarah, baru akan kita ekspos,”ujar Zulkifli.
Sementara itu, dari pengakuan sejumlah teman korban kepada wartawan koran ini. Jufrizal merupakan seorang remaja yang dinilai biasa-biasa saja dan tidak ada hal yang menonjol. Namun remaja itu suka bolos pada saat jam pelajaran, sehingga dirinya harus sekolah di beberapa lokasi.
Penulusuran wartawan koran ini kelokasi SMA Muhammadiyah Lhokseumawe, Kamis (28/5). Lokasi sekolah tampak tenang-tenang saja seperti tidak ada kejadian. Ternyata benar, sejumlah pegawai yang ditemui wartawan koran ini mengatakan tidak mengenal namanya Jufrizal. Serta tidak pernah melihat bahwa korban duduk kelas III pada SMA Muhammadiyah Lhokseumawe.
“Rasanya tidak ada siswa kelas III namanya Jufrizal. Sebab saya mengajar saat ini pada kelas III di SMU Muhammadiyah,”terang seorang ibu kepada wartawan koran ini meski telah ditunjukkan foto korban.
Namun tidak lama kemudian, ada dua remaja yang datang dengan memakai baju bebas kelokasi sekolah. Wartawan koran ini mencoba menanyakan kepada dua remaja tadi. Sebab informasi dari guru dan penjaga sekolah, bahwa dua remaja tadi siswa kelas III.
“Kami memang mendengar dan membaca ada kasus penculikan Jufrizal. Tapi dia tidak lagi bersekolah disini sudah lama. Dia informasinya dikeluarkan karena sering bolos dan pindah ke SMA lain,”terang seorang remaja kepada wartawan koran ini.
Seingatnya, sambung remaja ini, korban bersekolah hingga pertengahan kelas II di SMA Muhammadiyah. Lalu pindah karena kelakuannya yang sering tidak masuk saat jam pelajaran. Sementara kelakukan Jufrizal dinilai oleh bekas temannya ini tidak ada yang menonjol dari teman lainnya.
“Sebenarnya dia anaknya baik dan tidak nakal dan tidak terlibat masalah dengan orang. Hanya saja dirinya sering tidak masuk sekolah saja. Sehingga pada saat itu pihak sekolah memintanya untuk pindah,”sambung remaja lainnya.
Keterangan lainnya dari teman sekampungnya, yang juga menjadi saksi pada saat kejadian penculikan, mengatakan bahwa sehari-harinya korban selama berdua dengan dirinya. Kegiatannya sehari-hari hanya ke sekolah dan malamnya pergi mengaji.
“Kami selalu berdua kemana saja kalau dikampung, jadi saya tahu kalau dia tidak punya masalah. Juga pada saat dibawa oleh pelaku, saat itu dia sedang duduk di samping saya yang sedang main play station,”terangnya kepada wartawan saat memberikan keterangan kepada penyidik kemarin.
Sedangkan ayah korban Ahmad Ilyas (40) kemarin dalam keterangannya mengaku benar kalau Jufrizal adalah anaknya. Korban anak pertamannya dan yang kedua adalah Michiko (9) yang kini lebih sering tinggal bersama kakeknya. Hal ini karena pada saat dia berangkat untuk bekerja ke Jepang keluarganya tidak dapat ikut serta. (agt)
LHOKSEUMAWE- Kasus penculikan Jufrizal (18) siswa asal Simpang Kramat yang terjadi Selasa malam (26/5) sekira pukul 23.00 wib diduga kuat bermotif meminta uang tebusan. Sejauh ini polisi masih terus melakukan pengembangan dan memburu para pelaku dan membebaskan korban. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan untuk mengusut kasus penculikan tersebut.
Kapolres Kota Lhokseumawe AKBP Zulkifli kepada wartawan koran ini mengatakan, saat ini sejumlah personilnya masih di lapangan yang dibantu oleh personil Polda Aceh. Menyangkut pelaku dan juga motif sebenarnya masih terus didalami oleh pihak penegak hukum ini.
“Hingga hari ini sejumlah personil terus melakukan penyidikan di lapangan. Terindikasi penculikan ini motifnya uang, yaitu meminta tebusan kepada orangt tua korban. Mungkin pelaku mengira orang tua korban punya uang banyak, karena selama ini bekerja di sebuah perusahaan spare part mobil di Jepang,”terang kapolres, kepada Aceh Geutanyoe.
Ditanya apakah sudah ada pihak yang diduga menjadi tersangka? Kapolres belum mau mengatakannya, sebab masih dalam proses penyelidikan. “Doakan kami semoga dapat mengungkap kasus ini serta dukungan informasi lapangan. Nanti kalau sudah mengarah, baru akan kita ekspos,”ujar Zulkifli.
Sementara itu, dari pengakuan sejumlah teman korban kepada wartawan koran ini. Jufrizal merupakan seorang remaja yang dinilai biasa-biasa saja dan tidak ada hal yang menonjol. Namun remaja itu suka bolos pada saat jam pelajaran, sehingga dirinya harus sekolah di beberapa lokasi.
Penulusuran wartawan koran ini kelokasi SMA Muhammadiyah Lhokseumawe, Kamis (28/5). Lokasi sekolah tampak tenang-tenang saja seperti tidak ada kejadian. Ternyata benar, sejumlah pegawai yang ditemui wartawan koran ini mengatakan tidak mengenal namanya Jufrizal. Serta tidak pernah melihat bahwa korban duduk kelas III pada SMA Muhammadiyah Lhokseumawe.
“Rasanya tidak ada siswa kelas III namanya Jufrizal. Sebab saya mengajar saat ini pada kelas III di SMU Muhammadiyah,”terang seorang ibu kepada wartawan koran ini meski telah ditunjukkan foto korban.
Namun tidak lama kemudian, ada dua remaja yang datang dengan memakai baju bebas kelokasi sekolah. Wartawan koran ini mencoba menanyakan kepada dua remaja tadi. Sebab informasi dari guru dan penjaga sekolah, bahwa dua remaja tadi siswa kelas III.
“Kami memang mendengar dan membaca ada kasus penculikan Jufrizal. Tapi dia tidak lagi bersekolah disini sudah lama. Dia informasinya dikeluarkan karena sering bolos dan pindah ke SMA lain,”terang seorang remaja kepada wartawan koran ini.
Seingatnya, sambung remaja ini, korban bersekolah hingga pertengahan kelas II di SMA Muhammadiyah. Lalu pindah karena kelakuannya yang sering tidak masuk saat jam pelajaran. Sementara kelakukan Jufrizal dinilai oleh bekas temannya ini tidak ada yang menonjol dari teman lainnya.
“Sebenarnya dia anaknya baik dan tidak nakal dan tidak terlibat masalah dengan orang. Hanya saja dirinya sering tidak masuk sekolah saja. Sehingga pada saat itu pihak sekolah memintanya untuk pindah,”sambung remaja lainnya.
Keterangan lainnya dari teman sekampungnya, yang juga menjadi saksi pada saat kejadian penculikan, mengatakan bahwa sehari-harinya korban selama berdua dengan dirinya. Kegiatannya sehari-hari hanya ke sekolah dan malamnya pergi mengaji.
“Kami selalu berdua kemana saja kalau dikampung, jadi saya tahu kalau dia tidak punya masalah. Juga pada saat dibawa oleh pelaku, saat itu dia sedang duduk di samping saya yang sedang main play station,”terangnya kepada wartawan saat memberikan keterangan kepada penyidik kemarin.
Sedangkan ayah korban Ahmad Ilyas (40) kemarin dalam keterangannya mengaku benar kalau Jufrizal adalah anaknya. Korban anak pertamannya dan yang kedua adalah Michiko (9) yang kini lebih sering tinggal bersama kakeknya. Hal ini karena pada saat dia berangkat untuk bekerja ke Jepang keluarganya tidak dapat ikut serta. (agt)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar