Mata Selalu Tertutup dan Makan 1 Kali Sehari
LHOKSEUMAWE- Setelah delapan hari, akhirnya drama penculikan Jufrizal (18) siswa asal Desa keude Simpang Empat Kecamatan Simpang Kramat berhasil terungkap. Selama itu korban mengaku sangat takut dan sering mendapat ancaman serta dipukul oleh pelaku. Korban juga hampir tidak pernah melihat dunia karena matanya selalu tertutup dan makan satu kali sehari.
Pada saat memasuki rumah korban, wartawan koran ini harus berjumpa dengan personil polisi bersenjata. Mereka memang ditempatkan untuk menjaga keluarga korban pasca lepasnya sandera dari para pelaku penculikan. Rumah keluarga korban tampak ramai dipenuhi sanak familinya.
Dalam wawancara dengan korban penculikan, wajah Jufrizal tampak sedikit lesu dan meski keceriaan telah mulai terpancar. Dirinya mengaku sejak disekap dan dibawa pelaku ke dalam mobil, Selasa malam (26/5) sekitar pukul 23.00 wib lalu tidak pernah mengetahui dimana dirinya berada.
Sebab sejak itu mata ditutup dan tangannya diikat oleh kawanan pelaku. Keesokan harinya dirinya baru mengetahui kalau dirinya sudah berada diantara pepohonan sawit. Tetapi dirinya tidak pernah tahu dimana lokasinya berada saat itu.
Pada malam pertama, cerita korban, dirinya merasa sangat takut. Sebab pelaku sering memukulnya dan juga mengancam akan menghabisinya jika uang tebusan tidak diberikan. Bahkan korban dipukul bukan saja dengan tangan tapi juga dengan senjata.
“Saya pernah diancam akan dipotong kuping pada malam pertama diculik. Bahkan terus dipukul oleh beberapa pelaku yang pada saat itu kondisi matanya tertutup dan tangan terikat,”ucap Jufrizal.
Ditanya apakah dirinya disekap dalam sebuah rumah atau tempat lainnya? Siswa ini mengatakan bahwa dirinya dibiarkan dilam terbuka dan selalu berpindah pindah. Dari delapan hari dalam sekapan, dirinya hanya beberapa kali dibuka mata. Pada hari pertama dan pada saat mau buang air besar. Tetapi tangannya tetap saja tidak dilepas oleh pelaku.
“Saat makan saja mata saya tetap ditutup dengan lakban (isolasi). Jadi saya tidak pernah tahu kemana saya disembunyikan dan selalu berpindah pindah. Tetapi saya pernah melihat pelaku memang mempunyai senjata dan dari pembicaraan mereka pelaku jumlahnya banyak,”terang Jufrizal, kepada Metro Aceh, kemarin.
Ditanya pakah ada kontak antara dirinya dengan orang tua selam disekap? Korban mengatakan selalu berbicara dengan ayahnya saat pelaku menelpon. “Pada saat pelaku menelpon ayah saya, HP tetap diberikan kepada saya untuk berbicara lalu dimatikan kembali,”terangnya.
Sementara itu, ayah korban, Ahmad Ilyas (40) mengaku selama anaknya diculik semua keluarganya sangat resah. Bahkan makan dan tidur terasa tidak enak dan nyaman. Dirinya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena anaknya telah terbebas dari penculikan.
Ahmad Ilyas mengaku membayar uang tebusan yang diminta oleh pelaku senilai Rp.100 juta. Bahkan sebelumnya sudah tak terhitung jumlah voucher pulsa yang dikirim kepada pelaku. Sementara itu pemberian uang tebusan dilakukan sendiri olehnya disuatu tempat di tengah perkebunan di wilayah Peurelak Timur.
“Pelaku menelpon saya agar mengantar uang sendiri tanpa ditemani oleh siapapun. Hari Rabu (3/6) kemarin saya langsung menuju lokasi dan diantar oleh seorang yang sudah menunggu dengan sebuah sepeda motor. Lokasi tempat penyerahan uang sekitar 2 km dari jalan negara,”terang Ahmad.
Ditanya bagaimana saat menyerahkan uang? Ayah korabn mengaku saat itu pengendara sepeda motor langsung menuju lokasi. Ternyata disana telah ada dua pria dan anaknya. Setelah memberikan uang dan dihitung oleh pelaku, maka anaknya langsung dibawa pergi.
“Setelah uang diterima, saya bersama Jufrizal langsung pergi naik sepeda motor yang saya tumpangi tadi. Pada pertengahan jalan tiba-tiba langsung dihadang sebuah mobil. Ternyata anggota polisi dan kami langsung naik, lalu pergi dari lokasi. Tidak lama itu ternayata bunyilah suara tembakan dari arah tempat dimana kami menyerahkan uang tadi,”cerita Ahmad. (agt)
LHOKSEUMAWE- Setelah delapan hari, akhirnya drama penculikan Jufrizal (18) siswa asal Desa keude Simpang Empat Kecamatan Simpang Kramat berhasil terungkap. Selama itu korban mengaku sangat takut dan sering mendapat ancaman serta dipukul oleh pelaku. Korban juga hampir tidak pernah melihat dunia karena matanya selalu tertutup dan makan satu kali sehari.
Pada saat memasuki rumah korban, wartawan koran ini harus berjumpa dengan personil polisi bersenjata. Mereka memang ditempatkan untuk menjaga keluarga korban pasca lepasnya sandera dari para pelaku penculikan. Rumah keluarga korban tampak ramai dipenuhi sanak familinya.
Dalam wawancara dengan korban penculikan, wajah Jufrizal tampak sedikit lesu dan meski keceriaan telah mulai terpancar. Dirinya mengaku sejak disekap dan dibawa pelaku ke dalam mobil, Selasa malam (26/5) sekitar pukul 23.00 wib lalu tidak pernah mengetahui dimana dirinya berada.
Sebab sejak itu mata ditutup dan tangannya diikat oleh kawanan pelaku. Keesokan harinya dirinya baru mengetahui kalau dirinya sudah berada diantara pepohonan sawit. Tetapi dirinya tidak pernah tahu dimana lokasinya berada saat itu.
Pada malam pertama, cerita korban, dirinya merasa sangat takut. Sebab pelaku sering memukulnya dan juga mengancam akan menghabisinya jika uang tebusan tidak diberikan. Bahkan korban dipukul bukan saja dengan tangan tapi juga dengan senjata.
“Saya pernah diancam akan dipotong kuping pada malam pertama diculik. Bahkan terus dipukul oleh beberapa pelaku yang pada saat itu kondisi matanya tertutup dan tangan terikat,”ucap Jufrizal.
Ditanya apakah dirinya disekap dalam sebuah rumah atau tempat lainnya? Siswa ini mengatakan bahwa dirinya dibiarkan dilam terbuka dan selalu berpindah pindah. Dari delapan hari dalam sekapan, dirinya hanya beberapa kali dibuka mata. Pada hari pertama dan pada saat mau buang air besar. Tetapi tangannya tetap saja tidak dilepas oleh pelaku.
“Saat makan saja mata saya tetap ditutup dengan lakban (isolasi). Jadi saya tidak pernah tahu kemana saya disembunyikan dan selalu berpindah pindah. Tetapi saya pernah melihat pelaku memang mempunyai senjata dan dari pembicaraan mereka pelaku jumlahnya banyak,”terang Jufrizal, kepada Metro Aceh, kemarin.
Ditanya pakah ada kontak antara dirinya dengan orang tua selam disekap? Korban mengatakan selalu berbicara dengan ayahnya saat pelaku menelpon. “Pada saat pelaku menelpon ayah saya, HP tetap diberikan kepada saya untuk berbicara lalu dimatikan kembali,”terangnya.
Sementara itu, ayah korban, Ahmad Ilyas (40) mengaku selama anaknya diculik semua keluarganya sangat resah. Bahkan makan dan tidur terasa tidak enak dan nyaman. Dirinya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena anaknya telah terbebas dari penculikan.
Ahmad Ilyas mengaku membayar uang tebusan yang diminta oleh pelaku senilai Rp.100 juta. Bahkan sebelumnya sudah tak terhitung jumlah voucher pulsa yang dikirim kepada pelaku. Sementara itu pemberian uang tebusan dilakukan sendiri olehnya disuatu tempat di tengah perkebunan di wilayah Peurelak Timur.
“Pelaku menelpon saya agar mengantar uang sendiri tanpa ditemani oleh siapapun. Hari Rabu (3/6) kemarin saya langsung menuju lokasi dan diantar oleh seorang yang sudah menunggu dengan sebuah sepeda motor. Lokasi tempat penyerahan uang sekitar 2 km dari jalan negara,”terang Ahmad.
Ditanya bagaimana saat menyerahkan uang? Ayah korabn mengaku saat itu pengendara sepeda motor langsung menuju lokasi. Ternyata disana telah ada dua pria dan anaknya. Setelah memberikan uang dan dihitung oleh pelaku, maka anaknya langsung dibawa pergi.
“Setelah uang diterima, saya bersama Jufrizal langsung pergi naik sepeda motor yang saya tumpangi tadi. Pada pertengahan jalan tiba-tiba langsung dihadang sebuah mobil. Ternyata anggota polisi dan kami langsung naik, lalu pergi dari lokasi. Tidak lama itu ternayata bunyilah suara tembakan dari arah tempat dimana kami menyerahkan uang tadi,”cerita Ahmad. (agt)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar