





LHOKSEUMAWE- Sekitar 250 meter tanggul pengaman pantai di Gampong Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, belum selesai dilakukan pembangunan oleh kontraktor pelaksana proyek. Akibatnya, ratusan warga yang berdomisili di Dusun Tugu Pahlawan, gampong setempat menjadi korban abrasi selama hampir tiga bulan terakhir ini.Dimana, rumah-rumah mereka hancur setelah dihantam arus gelombang air laut, sehingga warga terpaksa tinggal ditenda pengungsian dan rumah tetangga lainnya. Bahkan, dalam beberapa hari ini, juga tercatat 23 unit rumah rusak total dan 70 unit rumah lagi tinggal menunggu geliran ambruk diterpa abrasi pantai.
Menurut beberapa warga, penyebab utama abrasi adalah tanggul pengaman pantai dengan menggunakan batu gunung belum selesai dibangun. Bahkan, proses pembangunan tanggul juga dinilai salah dalam perencanan. Seharusnya, terlebih dahulu tanggul itu dibangun dari bibir pantai Gampong Pusong hingga ke Gampong Ujung Blang, Kecamatan Banda Sakti. Dengan tujuan, agar memperhatikan posisi mata angin yang menyebabkan abrasi pantai tidak membuat kuala dan tidak menghancurkan rumah warga.
Namun, kenyataan yang terjadi pembangunan tanggul dimulai dari bibir pantai Ujung Blang,Hagu Barat Laut, Hagu Tengoh dan saat ini sampai ke Gampong Hagu Selatan, sehingga ratusan rumah warga hancur disapu arbasi akibat tanggul belum selesai dibangun.
“Memang kalau lihat kondisi masyarakat kita sangat sedih, karena bukan tidak mungkin dalam beberapa hari kedepan ini, abrasi pantai akan semakin ganas dan menyapu puluhan unit rumah warga yang sudah terancam ambruk tersebut,”ucap Kepala Dusun Tugu Pahlawan, Deni Taswier, bersama Ketua Pemuda setempat, Bukhari, kepada Rakyat Aceh, Kamis (1/10).
Bukhari mengatakan, saat ini tanggul pengaman pantai yang belum selesai dibangun itu telah membuat masyarakat menjadi korban keganasan abrasi pantai. Akan tetapi, jika sudah selesai dibangun dapat menguntungkan masyarakat karena abrasi pantai tidak menghantam rumah warga lagi.
Pun demikian, sambung Bukhari, yang menjadi masalah baru nantinya adalah para nelayan tidak dapat melakukan aktifitas melaut untuk menarik pukat. Karena tertahan dengan tanggul pengaman pantai. “Jadi pihak kontraktor juga harus bertanggung jawab dan memberikan perhatian terhadap korban abrasi pantai,”imbuhnya. (arm)
Walikota Respon Korban Abrasi Pantai
“Kawasan Pesisir Pantai Rawan Abrasi”
LHOKSEUMAWE- Walikota Lhokseumawe, Munir Usman, mengatakan, pihaknya akan mengupayakan para korban abrasi pantai di Gampong Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti, tidak lagi tinggal ditenda pengungsian. Pasalnya, selama terjadi abrasi pantai masyarakat yang menjadi korban terpaksa mengungsi dan ditempatkan ditenda pengungsian.
“Nanti kami mencari solusi, supaya masyarakat tidak tinggal ditenda pengungsian, apalagi ada beberapa warga yang sudah menderita penyakit dan pada hakikatnya ini semua akan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Lhokseumawe,”ucap Walikota Munir Usman, saat meninjau lokasi abrasi dan penyerahan bantuan masa panik.
Sebut Munir Usman, pihaknya juga dari aparatur Pemerintah Kota Lhokseumawe akan duduk rapat bersama, untuk membicarakan masalah korban abrasi apakah akan dibangun barak dilokasi tertentu atau bagaimana baiknya. Apalagi, kawasan pesisir sudah dinyatakan sebagai daerah rawan abrasi pantai.
“Saya minta kepada Camat Banda Sakti, untuk menyiapkan data-data jumlah korban abrasi dan termasuk rumah yang hancur dan terancam hancur. Karena dalam beberapa hari ini, saya akan ke Jakarta untuk membicarakan permasalahan abrasi pantai di Kota Lhokseumawe, dengan Menko Kesra dan Depsos,”pinta Walikota.
Masih dikatakan Munir Usman, dia atas nama masyarakat dan Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe, mengucapkan turut berduka cita terhadap musibah yang menimpa para warga korban abrasi pantai di Hagu Selatan. Selain itu, dirinya juga akan memanggil kontraktor yang menangani pembangunan tanggul pengaman pantai untuk meminta penjelasanya penyebab belum selesai dikerjakan proyek tanggul tersebut.
Sementara itu, bantuan masa panik yang diberikan kepada korban abrasi pantai, seperti beras, telor, indomie, perangkat shalat dan lainnya. Dalam kunjungan tersebut, juga turut dihadiri oleh unsur muspida dan muspika dan termasuk DPR Kota Lhokseumawe. (arm)
“Kawasan Pesisir Pantai Rawan Abrasi”
LHOKSEUMAWE- Walikota Lhokseumawe, Munir Usman, mengatakan, pihaknya akan mengupayakan para korban abrasi pantai di Gampong Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti, tidak lagi tinggal ditenda pengungsian. Pasalnya, selama terjadi abrasi pantai masyarakat yang menjadi korban terpaksa mengungsi dan ditempatkan ditenda pengungsian.
“Nanti kami mencari solusi, supaya masyarakat tidak tinggal ditenda pengungsian, apalagi ada beberapa warga yang sudah menderita penyakit dan pada hakikatnya ini semua akan menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Lhokseumawe,”ucap Walikota Munir Usman, saat meninjau lokasi abrasi dan penyerahan bantuan masa panik.
Sebut Munir Usman, pihaknya juga dari aparatur Pemerintah Kota Lhokseumawe akan duduk rapat bersama, untuk membicarakan masalah korban abrasi apakah akan dibangun barak dilokasi tertentu atau bagaimana baiknya. Apalagi, kawasan pesisir sudah dinyatakan sebagai daerah rawan abrasi pantai.
“Saya minta kepada Camat Banda Sakti, untuk menyiapkan data-data jumlah korban abrasi dan termasuk rumah yang hancur dan terancam hancur. Karena dalam beberapa hari ini, saya akan ke Jakarta untuk membicarakan permasalahan abrasi pantai di Kota Lhokseumawe, dengan Menko Kesra dan Depsos,”pinta Walikota.
Masih dikatakan Munir Usman, dia atas nama masyarakat dan Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe, mengucapkan turut berduka cita terhadap musibah yang menimpa para warga korban abrasi pantai di Hagu Selatan. Selain itu, dirinya juga akan memanggil kontraktor yang menangani pembangunan tanggul pengaman pantai untuk meminta penjelasanya penyebab belum selesai dikerjakan proyek tanggul tersebut.
Sementara itu, bantuan masa panik yang diberikan kepada korban abrasi pantai, seperti beras, telor, indomie, perangkat shalat dan lainnya. Dalam kunjungan tersebut, juga turut dihadiri oleh unsur muspida dan muspika dan termasuk DPR Kota Lhokseumawe. (arm)
Abrasi Pantai, Warga Nelayan Enggan Melaut
“Puluhan KK Masih Dipengungsian”
LHOKSEUMAWE- Seratusan nelayan korban abrasi pantai di Dusun Tugu Pahlawan, Gampong Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, tidak melakukan aktifitasnya melaut. Pasalnya, mereka terpaksa harus memperbaiki rumahnya yang sempat diterjang ombak abrasi pantai.
Sementara bantuan yang telah diberikan oleh Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe, untuk masa panik hanya berupa beras, telur, indomie, perangkat shalat dan lainnya. Pun demikian, kini kondisi kehidupan para nelayan yang berdomisli di Dusun Tugu Pahlawan, sangat menyedihkan.
“Masyarakat kami disini, tidak dapat melaut lagi seperti hari-hari biasa yang bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional akibat abrasi pantai,”ucap Bukhari Ketua Pemuda Dusun Tugu Pahlawan, kepada Rakyat Aceh, kemarin, seraya menambahkan, kondisi itu diperparah lagi dengan pembangunan tanggul pengaman pantai, sehingga tidak bisa untuk menarik pukat.
Dikatakannya, Pemerintah Kota (Pemko) dan Pemerintah Aceh harus dapat mencari solusi terhadap permasalahan yang dialami oleh masyarakat korban abrasi pantai. Khususnya, tentang mata pencaharian warga nelayan tersebut yang tidak jelas statusnya pasca proses pembangunan tanggul pengaman pantai.
“Anehnya, dulu sebelum dibangun tanggul pengaman pantai yang belum selesai itu tidak pernah terjadi abrasi di Gampong Hagu Selatan, membuat rumah warga hancur diterpa ombak. Walaupun air naik saat pasang purnama hingga ke jalan Samudera tapi tidak membuat rumah warga hancur,”imbuhnya.
Sementara itu, seperti diberitakan sebelumnya, penyebab utama abrasi adalah tanggul pengaman pantai dengan menggunakan batu gunung belum selesai dibangun. Bahkan, proses pembangunan tanggul juga dinilai salah dalam perencanaan. Seharusnya, terlebih dahulu tanggul itu dibangun dari bibir pantai Gampong Pusong hingga ke Gampong Ujung Blang, Kecamatan Banda Sakti. Dengan tujuan, agar memperhatikan posisi mata angin yang menyebabkan abrasi pantai tidak membuat kuala dan tidak menghancurkan rumah warga.
Namun, kenyataan yang terjadi pembangunan tanggul dimulai dari bibir pantai Ujung Blang,Hagu Barat Laut, Hagu Tengoh dan saat ini sampai ke Gampong Hagu Selatan, sehingga ratusan rumah warga hancur disapu arbasi akibat tanggul belum selesai dibangun. (arm)
“Puluhan KK Masih Dipengungsian”
LHOKSEUMAWE- Seratusan nelayan korban abrasi pantai di Dusun Tugu Pahlawan, Gampong Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, tidak melakukan aktifitasnya melaut. Pasalnya, mereka terpaksa harus memperbaiki rumahnya yang sempat diterjang ombak abrasi pantai.
Sementara bantuan yang telah diberikan oleh Pemerintah Kota (Pemko) Lhokseumawe, untuk masa panik hanya berupa beras, telur, indomie, perangkat shalat dan lainnya. Pun demikian, kini kondisi kehidupan para nelayan yang berdomisli di Dusun Tugu Pahlawan, sangat menyedihkan.
“Masyarakat kami disini, tidak dapat melaut lagi seperti hari-hari biasa yang bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional akibat abrasi pantai,”ucap Bukhari Ketua Pemuda Dusun Tugu Pahlawan, kepada Rakyat Aceh, kemarin, seraya menambahkan, kondisi itu diperparah lagi dengan pembangunan tanggul pengaman pantai, sehingga tidak bisa untuk menarik pukat.
Dikatakannya, Pemerintah Kota (Pemko) dan Pemerintah Aceh harus dapat mencari solusi terhadap permasalahan yang dialami oleh masyarakat korban abrasi pantai. Khususnya, tentang mata pencaharian warga nelayan tersebut yang tidak jelas statusnya pasca proses pembangunan tanggul pengaman pantai.
“Anehnya, dulu sebelum dibangun tanggul pengaman pantai yang belum selesai itu tidak pernah terjadi abrasi di Gampong Hagu Selatan, membuat rumah warga hancur diterpa ombak. Walaupun air naik saat pasang purnama hingga ke jalan Samudera tapi tidak membuat rumah warga hancur,”imbuhnya.
Sementara itu, seperti diberitakan sebelumnya, penyebab utama abrasi adalah tanggul pengaman pantai dengan menggunakan batu gunung belum selesai dibangun. Bahkan, proses pembangunan tanggul juga dinilai salah dalam perencanaan. Seharusnya, terlebih dahulu tanggul itu dibangun dari bibir pantai Gampong Pusong hingga ke Gampong Ujung Blang, Kecamatan Banda Sakti. Dengan tujuan, agar memperhatikan posisi mata angin yang menyebabkan abrasi pantai tidak membuat kuala dan tidak menghancurkan rumah warga.
Namun, kenyataan yang terjadi pembangunan tanggul dimulai dari bibir pantai Ujung Blang,Hagu Barat Laut, Hagu Tengoh dan saat ini sampai ke Gampong Hagu Selatan, sehingga ratusan rumah warga hancur disapu arbasi akibat tanggul belum selesai dibangun. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar