“Bantuan Beasiswa Sirna”LHOKSEUMAWE- Sejumlah warga korban konflik di Kota Lhokseumawe, mengaku kecewa dan kesal kepada pengurus Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA) setempat. Pasalnya, bantuan beasiswa anak yatim korban konflik tahun 2008 masih banyak belum tersalurkan.
Sementara informasi yang diterima wartawan koran ini, beasiswa untuk anak yatim korban konflik di Kota Lhokseumawe, mencapai 497 anak dan setiap anak berhak memperoleh beasiswa senilai Rp 1,8 juta/anak. Sedangkan total keseluruhan dana itu yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) tahun 2008 sebesar Rp 894.600.0000. Namun, hingga saat ini baru terealisasi beasiswa kepada 150 anak dan sisanya belum ada suatu kejelasan dari pihak BRA setempat, kapan disalurkan.
Anehnya lagi, dalam beberapa hari ini, Kantor BRA Lhokseumawe di Jalan Listrik, Kecamatan Banda Sakti, tidak dibuka. Kondisi itu, membuat para warga korban konflik menjadi kesal karena tidak tau harus mempertanyakan kenapa bantuan belum tersalurkan.
“Kami sudah dua hari lalu, mendatangi kantor BRA Lhokseumawe, untuk meminta kejelasan tentang belum disalurkan beasiswa anak yatim korban konflik. Namun, kantor BRA itu ditutup kami,”ucap Marwan (40) bersama warga korban konflik lainnya, kepada Rakyat Aceh, Selasa (20/10).
Dikatakannya, Pemerintah Kota (Pemko) Lhokeumawe, harus dapat mengambil tindakan tegas terhadap ketua dan pengurus BRA yang tidak membuka kantor serta melayani masyarakat korban konflik. Apalagi, SK penempatan ketua dan susunan pengurus BRA itu dikeluarkan oleh Walikota Lhokseumawe.
“Jangan membuat kami korban konflik ditelantarkan. Jangankan bantuan sudah ada untuk disalurkan, kantor saja sudah ditutup, mau jadi apa pengurus BRA Lhokseumawe atau hanya makan gaji saja,”tutur Marwan yang diayami korban konflik lainnya.
Namun, sayangnya Ketua BRA Kota Lhokseumawe, Hamdani Amir, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, tentang persoalan bantuan beasiswa dan kantor ditutup, tidak berhasil dihubungi. Meskipun, sudah dicoba berulang kali selulernya tetap tidak aktif atau berada diluar jangkauan. (arm)
“Kami sudah dua hari lalu, mendatangi kantor BRA Lhokseumawe, untuk meminta kejelasan tentang belum disalurkan beasiswa anak yatim korban konflik. Namun, kantor BRA itu ditutup kami,”ucap Marwan (40) bersama warga korban konflik lainnya, kepada Rakyat Aceh, Selasa (20/10).
Dikatakannya, Pemerintah Kota (Pemko) Lhokeumawe, harus dapat mengambil tindakan tegas terhadap ketua dan pengurus BRA yang tidak membuka kantor serta melayani masyarakat korban konflik. Apalagi, SK penempatan ketua dan susunan pengurus BRA itu dikeluarkan oleh Walikota Lhokseumawe.
“Jangan membuat kami korban konflik ditelantarkan. Jangankan bantuan sudah ada untuk disalurkan, kantor saja sudah ditutup, mau jadi apa pengurus BRA Lhokseumawe atau hanya makan gaji saja,”tutur Marwan yang diayami korban konflik lainnya.
Namun, sayangnya Ketua BRA Kota Lhokseumawe, Hamdani Amir, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, tentang persoalan bantuan beasiswa dan kantor ditutup, tidak berhasil dihubungi. Meskipun, sudah dicoba berulang kali selulernya tetap tidak aktif atau berada diluar jangkauan. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar