“Terkait Ditutupnya Kantor BRA”LHOKSEUMAWE- Walikota Lhokseumawe, Munir Usman, akan memanggil Ketua Badan Reintegrasi Damai Aceh, Kota Lhokseumawe, terkait ditutupnya kantor BRA setempat dalam beberapa hari terakhir ini.
Pasalnya, kantor BRA itu merupakan sebagai wadah untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan proses reintegrasi dan bantuan kepada masyarakat korban konflik. “Jadi bagi siapa saja yang telah ditempatkan dikantor BRA harus memiliki rasa tanggung jawab serta jangan pernah meninggalkan kantor tanpa adanya alasan tertentu,”tegas Walikota Munir Usman, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, Kamis (22/10).
Dikatakannya, untuk menyelesaikan malasah tersebut, dirinya selaku Walikota Lhokseumawe, akan memanggil ketua BRA dan pengurusnya guna mempertanyakan permasalahan yang terjadi ditubuh BRA sendiri. “Nanti, setelah kita tau apa masalahnya, baru akan kita mencari jalan keluar atau solusi terbaik, demi kepentingan masyarakat korban konflik di empat kecamatan dalam wilayah Kota Lhokseumawe,”papar Munir Usman.
Dengan ditutupnya kantor BRA, sambung Walikota, kondisi itu sangat berdampak terhadap masyarakat korban konflik, karena tidak tau harus kemana mengadukan nasibnya. Apalagi disitu, banyak sumber informasi yang diterima dari korban konflik dan BRA dapat menyampaikan informasi tentang proses bantuan reintegrasi. Tentunya, setiap informasi yang diterima itu, harus diselesaikan dengan baik dan sesuai ketentuan berlaku. “Yang jelas kami mengharapkan, kantor BRA jangan ditutup dengan alasan apapun, kami juga perlu penjelasan dari pengurus BRA tersebut,”pintanya.
Selain itu, ketika tanya apakah sudah menerima laporan terhadap ditutupnya kantor BRA Lhokseumawe, Walikota menyatakan, sejauh ini dirinya memperoleh laporan secara resmi baik dari ketua maupun pengurus BRA tersebut. Pun demikian, Munir Usman, juga mengakui sudah pernah membaca berita yang diberitakan koran ini tentang “Warga Kecewa, Kantor BRA Ditutup, Bantuan Beasiswa Sirna,”.
Sementara itu, seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah warga korban konflik di Kota Lhokseumawe, mengaku kecewa dan kesal kepada pengurus Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA) setempat. Karena bantuan beasiswa anak yatim korban konflik tahun 2008 masih banyak belum tersalurkan.
Data yang diterima wartawan koran ini, beasiswa anak yatim korban konflik di Kota Lhokseumawe, mencapai 497 anak dan setiap anak berhak memperoleh beasiswa senilai Rp 1,8 juta/anak. Sedangkan total keseluruhan dana bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) tahun 2008 sebesar Rp 894.600.000. Namun, hingga saat ini baru terealisasi beasiswa kepada 150 anak dan sisanya belum ada suatu kejelasan dari pihak BRA setempat, kapan disalurkan.
“Kami sudah dua hari lalu, mendatangi kantor BRA Lhokseumawe, untuk meminta kejelasan tentang belum disalurkan beasiswa anak yatim korban konflik. Namun, kantor BRA itu ditutup kami,”ucap Marwan (40) bersama warga korban konflik lainnya, kepada Rakyat Aceh, Selasa (20/10) lalu. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar