06 November, 2009

Korban Konflik Desak Kantor BRA Dibuka

LHOKSEUMAWE- Korban konflik asal Kota Lhokseumawe, mendesak pihak Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRA) setempat, untuk segera membuka kantornya. Dimana selama hampir satu bulan ini, kantor BRA tersebut sudah vakum dan tidak terlihat adanya aktifitas didalam kantor.

Betapa tidak, pintu kantor BRA Kota Lhokseumawe, sudah terkunci untuk korban konflik dalam mengadukan nasibnya. Kondisi itu, membuat warga korban konflik menjadi kesal karena tidak tau harus mempertanyakan kemana bantuan yang belum tersalurkan.

“Kami sudah tiga pekan mendatangi kantor BRA Lhokseumawe, di jalan Listrik, Kecamatan Banda Sakti, untuk meminta kejelasan tentang belum disalurkan beasiswa anak yatim korban konflik. Tapi kantor BRA itu ditutup,”ucap Suarna (40) bersama warga korban konflik lainnya, kepada Rakyat Aceh, Selasa (3/11).

Dikatakannya, Pemerintah Kota (Pemko) Lhokeumawe, harus dapat mengambil tindakan tegas terhadap ketua dan pengurus BRA yang tidak membuka kantor serta melayani masyarakat korban konflik. “Jangan membuat kami korban konflik ditelantarkan. Jangankan bantuan sudah ada untuk disalurkan, kantor saja sudah ditutup, mau jadi apa pengurus BRA Lhokseumawe atau hanya makan gaji saja,”kesal Suarna.

Sementara itu, seperti diberitakan sebelumnya, Walikota Lhokseumawe, Munir Usman, akan memanggil Ketua Badan Reintegrasi Damai Aceh, setempat, terkait ditutupnya kantor BRA dalam beberapa hari terakhir ini.

Pasalnya, kantor BRA itu merupakan sebagai wadah untuk menangani hal-hal yang berkaitan dengan proses reintegrasi dan bantuan kepada masyarakat korban konflik. “Jadi bagi siapa saja yang telah ditempatkan dikantor BRA harus memiliki rasa tanggung jawab serta jangan pernah meninggalkan kantor tanpa adanya alasan tertentu,”tegas Walikota Munir Usman, saat dikonfirmasi Rakyat Aceh, Kamis (22/10) lalu.

Sebut Munir Usman, untuk menyelesaikan malasah tersebut, dirinya selaku Walikota Lhokseumawe, akan memanggil ketua BRA dan pengurusnya guna mempertanyakan permasalahan yang terjadi ditubuh BRA sendiri. “Nanti, setelah kita tau apa masalahnya, baru akan kita mencari jalan keluar atau solusi terbaik, demi kepentingan masyarakat korban konflik di empat kecamatan dalam wilayah Kota Lhokseumawe,”pintanya. (arm)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar