16 Agustus, 2010

MoU Helsinki Hari Bersejarah Bagi Rakyat Aceh

 “Hari Ini Genap Sudah Lima Tahun MoU Helsinki”

ACEH UTARA- Perjanjian damai antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM), pada 15 Agustus 2005 lalu, menjadi hari yang bersejarah bagi rakyat Aceh. Betapa tidak, perjanjian damai atau yang lebih dikenal dengan MoU Helsinki itu merupakan langkah awal menuju kesuksesan dan kemakmuran Provinsi Aceh dimasa mendatang.

Baik itu untuk meningkatkan perekonomian rakyat Aceh maupun pembangunan infrastruktur serta membuka lapangan kerja baru bagi pengangguran. Apalagi, sejak puluhan tahun silam Aceh di dera dengan konflik berkepanjangan sehingga membuat rakyat menjadi korban dari pihak-pihak yang bertikai.

Tidak hanya itu, khususnya masyarakat pedesaan merasa ketakutan dan was-was saat beraktifitas sehari-hari, seperti pergi ke kebun, ladang, sawah dan tempat usaha lainnya. Dimana, ditempat tinggal mereka di gampong pedalaman kerap sekali terjadi kontak senjata antara TNI dengan GAM. Akibatnya, warga ini menjadi trauma dan ketakutan dengan peluru nyasar yang terbang kemana-mana milik pihak bertikai.

Namun, kini dengan tercapainya MoU Helsinki RI-GAM pada 15 Agustus 2005 lalu, membuat rakyat Aceh dapat hidup dalam kedamaian tanpa merasa ketakutan lagi dengan aksi kontak senjata. Apalagi, waktu itu pasukan TNI/Polri non organik yang bertugas di Aceh juga sudah ditarik dan kembali ke kesatuannya masing-masing. Begitu senjata miliki kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah dimusnahkan atau dipotong oleh tim AMM.

“Mudah-mudahan perdamaian Aceh ini dapat bertahan lama, karena kami sebagai rakyat sudah cukup sengsara hidup ketika konflik dulu,”ucap Ismail (40) dan Umar (50) warga Aceh Utara, kepada Rakyat Aceh, Sabtu (14/8). Kata dua warga ini, yang perlu dipikirkan atau  diprogramkan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Utara, saat ini adalah meningkatkan perekonomian masyarakat dan membuka lapangan kerja baru.  

“Hasil bumi Aceh sangat melimpah, baik sektor gas alam, minyak, pertanian, perkebunan, peternakan, maupun sektor-sektor lainnya yang dapat dikembangkan demi kemajuan Aceh kedepan,”cetusnya. Sebut dia, dengan perdamaian Aceh ini semua sektor dapat dihidupkan kembali oleh masyarakat dan pemerintah itu sendiri termasuk dapat mendatangkan para investor untuk berinvestasi di Aceh.

Sementara itu, Ketua KPA Wilayah Pase, Tgk. Zulkarnaini Bin Hamzah, juga mengatakan, tanggal 15 Agustus 2005 lalu merupakan hari yang bersejarah bagi seluruh rakyat Aceh dan patut untuk dikenang sebagai hari berakhirnya konflik berkepanjangan di Aceh.

“Jadi besok (hari ini,red) tanggal 15 Agustus 2010 sebagai hari peringatan MoU Helsinki ke lima tahun. Tentunya, bagi seluruh jajaran KPA/PA serta rakyat wilayah pase khususnya dapat bersyukur dan merawat MoU Helsinki di Provinsi Aceh, sehingga proses pembangunan Aceh kedepan dapat didata dengan baik dan lebih bermartabat,”cetusnya.  Kata dia, pihaknya juga dari jajaran KPA Wilayah Pase, hari ini akan menggelar doa bersama di kantor KPA/PA Wilayah Pase, di Kota Geudong, Kecamatan Samudera, Aceh Utara. (arm)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar