Tak Sesuai Hasil Lab
LHOKSEUMAWE-Syakira Nurul Alifa (5) anak dari pasangan Nurhayati 23 thn dan Zainuddin Abdullah (28) warga Gampong Teumpok Teungoh, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, menjadi korban hasil Laboratorium RS PMI Cabang Aceh Utara.
Betapa tidak, setting laboratorium rumah sakit setempat terhadap korban penerima penyakit DBD tidak akurat, akibat lab erorr. Dimana, dalam daftar hasil pemeriksaan darah korban kondisinya kritis, dengan Hemoglobin 4,9 pada satuan g/dl dan thrombosit 23 pada satuan k/uL.
Betapa tidak, setting laboratorium rumah sakit setempat terhadap korban penerima penyakit DBD tidak akurat, akibat lab erorr. Dimana, dalam daftar hasil pemeriksaan darah korban kondisinya kritis, dengan Hemoglobin 4,9 pada satuan g/dl dan thrombosit 23 pada satuan k/uL.
Pemeriksaan itu sendiri dilakukan pada 17 September lalu, dan hasilnya dikeluarkan 18 September setelah darahnya diperiksa petugas laboratorium terhadap Hematologi. “Saya selaku orang tua sangat terkejut begitu menerima hasil pemeriksaan karena menurut dokter yang merawat anak saya kondisinya berada pada level kronis,”ucap Zainuddin Abdullah (28) ayah Syakira Nurul Alifa, kepada Rakyat Aceh, Selasa ( 21/9).
Sementara itu pihak Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Aceh Utara, saat dikonfirmasi mengaku, pihaknya sudah meminta maaf kepada orang tua pasien atas kesalahan hasil pemeriksaan tersebut.
Sementara di Lhoksukon, petugas medis RSU Cut Meutia dituding abaikan pasien benama Muhammad Zayyan (7 bulan) yang meninggal dunia akibat DBD. Kini satu warga lagi warga Aceh Utara yakni Ponimannur (22) asal Buket Hagu, Kecamatan Lhoksukon meninggal dunia akibat wabah yang sama di Rumah Sakit Melati Lhokseumawe, Senin (20/9) malam.
Keluarga almarhum Ponimannur yakni Titik Trasminah (32) kepada Rakyat Aceh, Selasa (21/9) demam tinggi menyerang korban sejak empat hari lalu, saat dilarikan ke rumah sakit keponakannya itu menghembuskan nafas terakhir.
“Tidak ada alasan lagi bagi pihak dinas kesehatan untuk tidak memfogging tempat tinggal kami karena sudah dua korban meninggal dunia akibat DBD,” ujarnya.
Sementara itu M Rusdi ayah dari almarhumm Muhammad Zayyan menyesalkan sikap dr Lukman kepala Puskesmas Lhoksukon yang kurang peduli terhadap kondisi bayinya yang terkena demam tinggi akibat DBD, saat itu ia membawa bocah malang itu ke prakter dokter tersebut pada Selasa sore (14/9) lalu.
Dan sang dokter umum itu mengatakan anaknya hanya demam biasa, padahal sudah jelas terdapat bintik-bintik merah disejumlah tubuh pasien. (arm/sjm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar